kupergauli 4 saudara sekaligus

kupergauli 4 saudara sekaligus

Pada suatu hari ketika sedang sibuk-sibuknya di kantor, datang sepucuk surat lewat perusahaan kurir yang ditujukan kepadaku dari kota asal kelahiran ku di jawa barat. Tanpa alamat pengirim. Dengan perasaan bingung campur penasaran aku buka surat itu. Surat itu ternyata dari mantan pacar (Wati, nama samaran) cinta pertama kami berdua sewaktu SMA tahun 1981. Hampir 26 tahun yang lalu. Isinya menyatakan bahwa dia sudah menikah namun selalu teringat aku,  mempunyai 3 orang anak berikut alamat lengkap dan no handphone.

Singkat cerita akhirnya kami bertelepon ria dan kenangan manispun timbul kembali. Aku berjanji jika ada libur panjang maka aku akan datang berkunjung. Ketika libur panjang datang dengan alasan yang dibuat-buat kepada istri akhirnya aku datang juga ke kota asalku. Aku sengaja tidak nginap di famili, namun di hotel. Dan pada sore itu pula aku datangi rumahnya.




Dengan rasa penasaran karena sudah lama tidak bertemu, aku mencoba mengira-ngira wajahnya saat ini seperti apa, ya?
Perlahan ku ketuk pintu sambil berucap : “permisi….”
” mas anto ,ya? ” sesosok wanita cantik muncul di balik pintu
“Iya” sambil aku masih menebak-nebak  ” wati ya……..”
“Bukan, saya Sri adiknya, masuk mas…. mbak Wati sebentar keluar, lagi di kamar”. 

Kuperhatikan wanita ini mirip Wati namun tampak lebih muda dari perkiraanku. Dulu waktu aku pacaran memang tidak pernah bertemu dengan Sri, karena dia ikut neneknya di Wonosari. Tak lama kemudian keluarlah Wati. Wajahnya tampak tidak sesuai dengan bayanganku, kerana memang saat itu  Wati sudah 42 tahun. Namun sisa kecantikannya masih terlihat jelas begitu pula bodynya masih terawat. Suaminya hari itu sedang mendapat tugas lembur (piket) di sebuah Rumah Sakit. Setelah basa-basi dan bernostalgia akhirnya sekitar jam 8 malam aku pamit, karena badanku letih.

Terus terang aku ingin memeluk dan menciumnya seperti dulu ketika tadi siang bertemu. Tapi karena suasana rumah tidak memungkinkan akhirnya perasaan itu terbawa sampai malam. Tidak lama aku  di Hotel, tiba2 HPku berdering, ternyata Wati yang telphon. Dia memaksa untuk datang mememuiku di hotel. Dengan rasa campur aduk antara senang dan galau aku mengiyakan permintaan itu. Hmmmm…… rupanya Wati memendam keinginan yang sama, pikirku.

Kujemput dia di lobby, turun dari becak Wati kelihatan sudah tidak sabar ingin segera berdua. Dengan segera ku bawa dia ke kamar. Benar saja…… baru juga aku menutup pintu Wati langsung menubruk aku dengan pelukan penuh kerinduan dan air mata. Kami lama berpelukan tanpa kata-kata. Terus terang waktu pacaran dulu kami hanya sebatas berpegangan tangan. Tidak lebih.

Pelan-pelan kehangatan menjalar ditubuhku, entah siapa yang memulai akhirnya  kami saling berciuman. Kurasakan kehausan dan kerakusan ketika bibir dan lidah kami saling terpaut. Lidahnya menjelajah relung mulutku. Lidahku membelai dan mengarahkan lidahnya untuk terus bergerak liar. Bersamaan dengan itu penisku menegang dengan sempurna. Bukannya  menghindar, Wati malah lebih menekankan dan  menggeser-geserkan pinggulnya sehingga penisku smakin mengembang. 






Dengan penuh nafsu akhirnya kami melanjutkan aksi. Sambil tetap bercium kutelusuri sisi tubuhnya dengan tanganku, sampai akhirnya mendarat di pantat. Kuremas kedua pantatnya dan sedikit semi sedikit kunaikan roknya, sehingga tanganku menyentuh kulit paha dan pantatnya yang halus itu.  Karena aku paham bahwa kami sudah sangat bernapsu, maka tanganku kananku langsung kuselipkan  dibalik celana dalamnya.  Kuremas pantatnya yang masih kenyal. Sementara tangan kiriku sudah bergerak menuju payudaranya. Rupanya Watipun sudah sangat terbakar,tangannya tidak segan-segan mengelus-elus penisku dari luar. Kami tetap berciuman.

Pelan-pelan tangan kananku bergeser dari pantat menuju memeknya. Ketika jariku mulai membelah dan menemukan clirotisnya  maka saat itulah dia melepaskan ciumannya, dia mendesah dan tubuhnya sedikit bergetar. Kuusap pelah-pelan clirotisnya, kujelajahi belahan memeknya dari bawah sampai atas. Basahnya sudah tak terbendung.
Aku merasa dia berusaha membuka resleting celanaku. Akhirnya aku lepas pelukannya, aku lepas memeknya. Dia agak terkejut dengan perbuatanku. Kutatap sambil kupegang kedua bahunya.
” kamu yakin akan melakukan ini…..? tanyaku. Dia cuma mengangguk pelan.
” Aku sudah memimpikan ini dari dulu” lirihnya.
Akhirnya ku bimbing dia ketempat tidur. Kami berciuman kembali. Satu demi satu pakaian terlepas. Kutelusuri tubuhnya yang tidak muda lagi. Sambil tetap berciuman kubuka pahanya dan tanganku kembali menyelinap lembut pada memeknya. Pada saat itulah tangannya mencari-cari penisku. Sambil digenggam diusapnya cairan yang keluar dari penisku dengan ibu jarinya. Rasanya sungguh luar biasa ketika ibu jarinya berputar-putar di ujung penis.

Tak lama aku merasa bahwa penisku di tarik-tarik pelan. Aku tahu dia sudah menginginkan penisku dimasukan. Tapi aku ingin melihat dulu bentuk memeknya. Maka ku lepas ciumanku dan aku turun kebawah. Sambil duduk diantara  kakinya kulebarkan pelah-pelan kedua pahanya. Dan memek itu merekah. Warna merah muncul diantara lebatnya bulu. Penisku makin berdenyut melihatnya.

“aku jilat ya…..” pintaku. Dia diam saja. Maka lidahku kubenamkan diantara rimbunnya bulu dan menelusuri setiap lekuk lubang basah, hangat dan beraroma khas. Kujilat dan kuisap  clirotisnya. Desahnya sudah berganti dengan erangan. Kedua tangannya mencengram lembut rambutku. Terus kumainkan lidah menelusuri lembah sampai ke dalamnya. Sementara penisku terus berdenyut. Dan ketika Wati sudah menarik-narik rambutku, maka aku paham dia sudah menginginkan penisku masuk ke dalamnya.
“ah…mas, masukin sekarang mas…….” lirihnya
Pelan-pelan aku merayap di atas tubuhnya, sambil tetap menciumi perut, dada dan lehernya. Ketika akhirnya kepala penisku menemukan lubang kenikmatan itu kasabaran Wati sudah hilang. Di dekapnya aku dengan satu tangan dan tangan lain menekan pantatku sambil pantat dia diangkat ke atas. AKhirnya penisku masuk dengan sempurna ke dalam memeknya. Bukan lagi erangan yang aku dengar tapi berubah menjadi  teriakan tanpa suara.

Malam itu kami menemukan kebahagian dan kenikmatan yang luar biasa. Kami saling menjelajahi tubuh dengan mata, bibir dan  lidah.  Saling pijat dengan tangan dan kemaluan kami.
Berminggu-mginggu kemudian kami rutin ke hotel. Baik di kota asalku atau di Jakarta. Dan yang mengherankan aku  adalah suaminya “merestui” hubungan kami. Belakangan aku tahu bahwa suaminya sudah lama tidak berfungsi.
Pada sekitar bulan ke 4 hubungan kami, sesuai dengan janji aku datang lagi ke rumahnya. Ku ketuk pintu seperti biasa.
” silahkan masuk, mas. ” kudengar bukan suara Wati, tapi suara Sri.  Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu.
” mbak Wati nya lagi arisan mas, tunggu dulu aja ya.” kata Sri sambil pergi. Akupun mengiyakan. Tak lama kemudian dia muncul lagi dengan membawa teh hangat.
” minum mas” kata Sri. Aku pikir dia akan masuk kedalam lagi tapi ternyata duduk di hadapanku menemaniku ngobrol.  Kami ngobrol biasa, aku sama sekali tidak menggoda. Dan dari obrolan itulah aku tahu bahwa dia dulu nikah usia muda dan sekarang sudah menjanda selama 4  tahun dengan 2 0rang anak perempuan berusia 22 dan 19 tahun. Tidak berapa lama kami mengobrol basa-basi tiba-tiba Sri bertanya:

” jakartanya di mana mas?”  kusebutkan satu daerah di jakarta selatan.
“kalau sunter di daerah mana  mas? tanya Sri kembali.
“emang ada apa?” balasku bertanya.
“minggu depan saya ada undangan teman dekatku menikahkan anaknya, di sunter” ujarnya.
” oh…ya kalau kamu belum tahu daerahnya nanti saya antar deh, tinggal kasih tahu kapan berangkatnya, nanti saya jemput di statsiun gambir.” kataku. Sri tampak ragu-ragu menerima tawaranku.
“aku nggak enak sama mbak Wati” katanya.
“ya jangan kasih tahu mbak Wati” kataku. Akhirnya dengan sedikit ragu Sri mengiyakan tawaranku. Dan untuk memperlancar urusan kami saling bertukar nomor handphone. Tak lama kemudian datanglah 2 cewek cantik menerobos masuk. Sri langsung mengenalkan mereka padaku.
” ini anak-anakku. yang besar Yani dan adiknya Indah”  katanya. Aku hanya terpana melihat kemolekan mereka. Setelah bersalaman merekapun masuk ke dalam.Tidak lama kemudia Wati datang bersama suaminya.

Singkat cerita malam itu saya dan Wati kembali bertempur di hotel sampai terasa lolos tulang-tulangku.  Besoknya ketika aku pulang menggunakan kereta,  masuk SMS dari Sri berbunyi : ” Mas, smalam diapain mbakku? hari ini keliatannya  lemes  banget tapi wajahnya cerah…”
Kubalas SMSnya dengan bahasa yang agak vulgar ” Ku jilat dari atas sampai bawah, yang paling lama di tengah2. main 3 ronde, mas juga lemes”.  Seketika itu juga datang balasannya ” Enak dong”.  Lalu ku balas ” Mau nggak?”. Tak ada balasan lagi.
Terus terang semenjak saat itu yang selalu lebih terkenang di benakku adalah Sri bukan Wati.  Kami lebih sering SMS an, aku sengaja memancing dengan bahasa yang “nyerempet2.”, namun Sri  menanggapi dengan dingin saja.



Pada waktu yang telah ditentukan dengan perasaan berbunga dan dengan rencana “jahat” di otakku, aku jemput Sri di Stasiun Gambir. Namun rencanaku terasa berantakan seketika. Ternyata Sri datang dengan anak sulungnya, Yani.  Entah perasaanku saja atau memang nyata demikian, aku melihat kerinduan di mata Sri ketika dia melihatku. Kami bersalaman dan langsung berangkat menuju salah satu daerah di Sunter. Ternyata rumah kerabat Sri berada di daerah padat penduduk. Rumah kecil di gang kecil. Karena suasana mau pesta, maka rumah kecil itu semakin sesak dengan famili dan kerabat yang lain. Aku melihat keraguan di mata Sri  ketika ditawari menginap di situ.

“tidurnya gimana ini?” lirih Yani yang sempat aku dengar.  Akhirnya aku berinisitif menawarkan  hotel yang dekat lokasi itu. Merekapun mau. “Ini kesempatan” pikirku. Selama dalam perjalanan aku menyusun lagi strategi agar malam itu aku bisa menikmati Sri. Peniskuku sudah tegang sejak memikirkan itu.
Ketika di hotel aku pesan 2 kamar. Sri dan Yani terlihat heran.
“Lho, kami satu kamar berdua aja, ga usah masing-masing satu kamar” ujar Sri.
“Ini buat aku, lagi malas pulang” kataku. Menjelang sore kami sudah masuk kamar masing-masing. Selama itu pula aku masih bingung memikirkan rencana “jahat” ku. Namun yang namanya setan sungguh tahu kehendaku. Selepas magrib pintuku di ketuk Yani.
” Om, Yani pamit dulu sebentar, ini teman Yani jemput” katanya sambil mengenalkanku pada seorang cewek sebayanya. Rupanya Yani janjian dengan seseorang.
” kemana?” tanyaku. ” Mau ke Salemba, om. kerumah teman” jawabnya. Hatikupun bersorak. ” nginap aja sekalian” dalam hati.
Nggak lama aku SMS Sri, ” Lagi ngapain nih? aku lagi bengong ga da teman ngobrol” Nggak ada jawaban sampai 30 menit. Cemas aku menduga-duga. Tak lama kemudian pintuku di ketuk. Kulihat Sri berdiri depan pintu dengan menggunakan pakaian santai.  Kaos dan celana selutut. Kupersilahkan dia masuk, dengan ragu-ragu dia melangkah dan duduk di kursi rias. Setelah sedikit berbasa basi aku melancarkan serangan.
” kamu masih cantik dan bodymu juga masih OK, kenapa ga nikah lagi?” tanyaku.
“aku masih senang sendiri, takut nikah nanti cerai lagi…..” jawabnya.
“tapi kan kamu masih muda, masih punya bebutuhan khusus yang harus dipenuhi” sambungku. Dia menunduk, paham maksudku. 

Kutunggu jawabannya beberapa saat. Sebelum dia sempat menjawab aku sudah menyentuh pundaknya dari belakang. Dia nampak terkejut tapi juga tidak menampik. Kugeser perlahan tanganku ke pipinya, saat itulah dia menampik tanganku. Aku bukannya berhenti malah ku genggam pergelangan tangannya, kutarik dia untuk berdiri.

Dengan perasaan yang masih bingung ku cium dia di bibirnya. Berontak dia. Kucengkram rambut dan kepalanya agar dia tidak berontak dan melepas ciumanku. Beberapa saat kemudian aku merasa lengannya melinggkar di pinggangku, saat itulah kulepas cengkraman dirambutnya. Dia mulai membalas liarnya lidahku. Tanpa buang waktu tanganku sudah menelusuri dadanya sampai akhirnya berlabuh di memeknya. Dan  malam itu kami sempat bercinta 2 babak sampai pintu di ketuk dari luar. Tok….tok….tok. Kami semua terkejut dan terperangah. Yani sudah pulang. Kulihat jam di dinding 22.20. Dengan terburu-buru Sri mengenakan baju, begitupun aku. Tak lama kemudia Sri keluar.

Besoknya aku melihat perubahan di wajah Yani. Ia yang tadinya ramah mendadak menjadi sangar melihatku. Tak mau bicara baik ke ibunya apalagi ke aku. Rupanya ia tahu apa yang sudah kami perbuat. Sekitar jam 9 saya antar mereka menuju tempat pesta dan siangnya saya antar kembali mereka ke Stasiun Gambir, pulang ke kota asal.

Satu minggu kemudian aku kembali datang ke kota kecil itu. Terus terang aku lebih menginginkan Sri daripada Wati. Maka yang pertama aku hubungi adalah SRi. Dan malam itu saya menghabiskan waktu di hotel dengan Sri. Besoknya di hotel lain saya berduaan dengan Wati. Begitu terus setiap 2 minggu sampai kurang lebih 3 bulan aku menikmati pelayanan dengan 2 gaya dari kakak-adik.
Pada suatu saat ketika saya sedang di kantor di Jakarta, masuk no telphon yang tidak aku kenal.
” hallo….” jawabku. “Om…..” ku dengar suara ragu-ragu. Aku kemudian sadar bahwa ini suara Yani.
” ada apa Yan?” tanyaku setelah berbasa basi.
” tolong Yani, Om. Yani ada di jakarta tapi Yani kena razia narkoba. Sekarang ada di Polsek Jakarta ………” jawabnya  sambil menyebutkan satu wilayah jakarta. Sorenya aku kunjungi Yani. Dia nampak lelah namun tidak terlihat cemas. 3 hari Yani di tahan. Dan selama itu pula aku yang mensuplai makanan dan baju-baju. Pada hari ke 4 Yani di bebaskan karena tidak terbukti.  Sedangkan temannya terus ditahan karena terbukti. Aku bingung Yani mau dibawa ke mana. Ke rumahku jelas ga mungkin. Akhirnya aku cari hotel dekat rumah. Setelah aku ajak makan di hotel itu aku terus pulang, sedangkan Yani langsung masuk kamar.

Jam 8 malam itu aku coba telphon Yani untuk sekedar menanyakan kabar.
“Om, Yani perlu obat maag sama sikat gigi” katanya. ” Oke, ntar Om antar” jawabku. Dalam perjalanan ke hotel itulah pikiran kotorku muncul.  Ketika aku mengetuk pintu Yani hanya melongokan kepalanya di pintu. Dia nampak ragu-ragu mempersilahkan aku masuk ke dalam. ” Boleh Om masuk?. Om mau ngobrol sebentar ngomongin soal hubungan om dan mamahmu”. Akhirnya aku dipersilahkan masuk. Dan saat itulah aku dihadapkan pada pemandangan yang luar biasa. Yani hanya mengenakan tangtop tanpa BH dan celana jins pendek sekali hampir pangkal paha. Payudaranya menggelembung dengan sehat, pentilnya samar-samar menonjol keluar. Rupanya dia sadar aku memperhatikan dan cepat-cepat menutupnya dengan selimut.

” Yani…..om mohon  jangan di tutupi. Kamu punya tubuh luar biasa indah sayang kalo tidak ada yang menkmati” kataku langsung. Merah padam mukanya mendengarku berkata begitu. Antara malu dan marah menjadi satu. Tapi setan sudah terlanjur menguasaiku. Dengan segala rayuan dan bujukan akhirnya Yani mau melepaskan selimutnya. ” Boleh aku sentuh Yan? di luarnya aja…….” pintaku. Yani langsung menolak sambil menyilangkan tangannnya di dada. Juga dengan rayuan dan bujukan akhirnya aku di ijinkan memegang putingnya dari luar.

Sambil kami duduk di sisi tempat tidur,  aku mulai menyentuh putingnya. Dia tidak bereaksi dengan wajah menoleh jauh. Ku sentuh lagi putingnya yang sebelah kanan. Masih belum bereaksi juga. Ketika aku pilin putingnya dengan kedua jariku, mulailah ia sedikit menggelinjang dan kulihat putingnya mulai tegang. Kuputar jariku di kedua putingnya, semakin jelaslah tonjolan di kaosnya. Aku sudah tak tahan ini menyelusupkan tanganku ke balik tangtopnya. Namun tanganku di cegah ketika baru sampai perut. sementara tangan kiriku masih bergerilya di luar kaos tangan kananku mulai naik perlahan dari perut. Aku merasakan pegangan tangan dia mengendur, akhirnya sampailah tanganku kepuncak bukit kenikmatan dengan bebas. Ketika kudengar suara rintihan halus,  pada saat itulah aku yakin bahwa permainan ini bisa sampai tuntas. Maka mulaikah aku meremas, menjilat dan meghisap putingnya, perutnya, clirotisnya dengan lembut. Dan malam itu aku mendapatkan segalanya. Walaupun Yani sudah tidak perawan, namun dia masih merasa sakit ketika penisku masuk ke memeknya. Karena penisku adalah yang kedua kalinya  masuk memeknya setelah dia melakukan yang pertama dengan pacarnya 2 tahun yang lalu. Malam itu kami tidak tidur, aku mengajari teori dan praktek bercinta pada Yani. Selain memberikan pengertian bahwa hubunganku dengan ibunya adalah sebatas memenuhi kebutuhan sex.

Singkat cerita hari-hari selanjutnya aku disibukan oleh SMS dan deringan HP dari mereka bertiga Wati,  Sri dan Yani. Ketika aku pulang ke kotaku, maka ku gauli ketiganya dengan cara digilir dengan jadwal yang tersusun rapi sehinga tidak terjadi “tabrakan”.

Orang ke empat yang aku gauli sebenarnya bukan anggota keluarga Wati, tapi calon anggota keluarga. Sebut saja namanya Nancy.  Ia adalah pacar dari anaknya Wati yang bernama Roy. Kisahnya bermula dari kunjunganku ke rumah Wati. Pada saat itu tiba-tiba aku mendapatkan telephon dari kantor di Jakarta. Dikatakan aku harus menghubungi Mr.X.  No HP Mr.X ini ternyata CDMA. Karena perkiraanku pembicaraan akan panjang maka aku meminjam HP anaknya Wati (bernama Roy) yang kebetulan juga CDMA. Maka sore itu atas ijin Roy aku pinjam sampai besok CDMA nya.
Malam hari ketika aku sedang makan di luar, tiba-tiba HP Roy berbunyi.
” Hallo” Jawabku. Aku sudah siap-siap mendengar suara Mr. X. Namun ternyata yang kudengar suara merdu seorang perempuan.
” Hallo juga, ini siapa?” jawabnya ragu-ragu.  Setelah saling bertanya baru aku tahu kalau yang telephon itu adalah tunangan Roy. Aku menjelaskan bahwa malam itu HP Roy aku pinjam. Dengan segala caraku akhirnya kami berkenalan, bahkan ngobrol sampai panjang lebar. Rupanya obrolan kami nyambung sehingga kami berjanji akan saling menelephon lagi.

Singkat kata Nancy rupanya tipe orang yang penasaran akan sex namun takut untuk melakukannya.  Dengan Roy hanya sebatas bercumbu tidak mau lebih dari itu. Karena dia sadar bahwa dia mudah “panas” maka bercumbu dengan Roy hanya sebatas dada. Dia ingin lebih dari itu tapi takut kebablasan, katanya.
Nancy banyak bertanya kepadaku soal Sex, sampai akhirnya kami ber Phone sex. Namun lama-lama kami berdua penasaran juga. Akhirnya dengan suatu perjanjian aku bisa membawa Nancy ke hotel. Perjanjian itu adalah: aku boleh mengeksplorasi tubuh dia dan saling memberi kenikmatan namun aku tidak boleh memasukan penisku ke memeknya. Dia masih perawan!!. Ketika kutanyakan mengapa dengan aku, bukan dengan Roy?. Jawabnya adalah : Dia tidak yakin Roy mampu menahan penisnya masuk ke memeknya. Komitmen itu aku pegang teguh.

Ternyata dugaanku dan dugaan dia benar. Nancy sangat mudah terbakar. Ketika aku cium, bibirnya seolah magnet. langsung terpaut dengan bibirku, Tak mau lepas. Seolah kami  sudah mengenal  sejak lama, kami langsung melepaskan seluruh pakaian . Ketika aku akan melepaskan CDnya, kulihat bulatan basah sudah terpampang diCDnya. Kujilati seluruh tubuhnya, dia hanya bisa mendesah dan merintih. Kujilati pula clirotisnya, kujelajahi seluruh lekukan memeknya dengan lidahku. Kutempelkan kepala penis ku ke lubang memeknya, ke clirotisnya. Ku usap-usap clirotisnya dengan kepala penisku. Ku lihat ia beberapa kali orgasme. Hari itu aku berpesta dengan tubuhnya. Tapi aku tidak memasukan penisku ke memeknya!!!. Spermaku keluar dengan cara di kocok dengan tangan atau payudaranya. Bulan Maret 2010 kemarin Nancy sudah berani mengeluarkan spermaku di dalam mulutnya. Dia berjanji jika sudah menikah, kami akan selalu bertemu untuk menuntaskan rasa yang tertunda.
Maen ML ABG Anak SMP Surabaya

Maen ML ABG Anak SMP Surabaya

Ngentot ABG Anak SMP Surabaya

Hani Ngentot ABG Anak SMP Surabaya, Hari ini cerita lama gw, waktu itu awal tahun 94. gw dapat tugas dari bos gw ke surabaya…gile bener gak nyangka jg gw yg disuruh setau gw kantor cabang di surabaya baru buka dan yg pasti masih berantakan semuanya…yg jd pikiran gw dimana gw mau tinggal atau ngekos,
masalahnya bos gw bilang gw paling lama 3 bulan di surabaya… glek !! Hmmmph. take off dari jakarta jam 06.00 pagi pake penerbangan pertama waduh hujan gerimis campur petir lg…mpot2an jg gw jadinya. untungnya pas landing di juanda cuaca dah terang.



langsung aja gw paketaksi ke wtc/delta plaza surabaya tempat kantor gw..setelah urusan selesai dikantor gw mulai tanya tempat kos sama temen gw disana. dia bilang, “itu mah gampang, skrg malam ini kamu nginep dulu ditempatku, besok kamu tinggal nempatin tempat kosnya aja.” busyet dah…rupanya temen gw dah ngatur semuanya !! thanks god….. 

besoknya setelah jam kantor gw dianter sm temen gw ke tempat kos. heran campur bingung, ” koq tempatnya kayak rumah biasa sih mas?” tanya gw. “emang…tp yg punya rumahnya kenal baik sm sy, terus dia malah yg nawarin suruh ngekos disini.” jawab temen gw enteng. rumah itu tempat tinggalnya mbak naniek, suaminya seorang pegawai negeri dan dia punya 3 orang anak. 2 perempuan dan 1 laki-laki… mbak
naniek sendiri punya usaha toko dipasar dekat daerah waru-sidoarjo.“ya udah, kamu tinggal disini aja,anggap aja rumah sendiri.” kata mbak naniek halus. 
“makasih ya mbak..maaf kalo ngerepotin.”jawabku polos.
“ini hani ana mba yg nomer 2 biar bongsor gini dia br kelas 3 smp, yg ini dimas anak bungsu mbak br kelas
5 sd. yg nomer 1 dah kuliah di jogja.
” lanjut mbak naniek. gile bener…
gw lihat bodi si hani bohay abis…bemper belakang semok n dada dah nongol ky orang gede dah hampir sebulan gw tinggal di rumah mbak naniek…tiap pulang kantor dg lihat si hani lg nonton tv sambil ngemil..
kadang2 dia suka nanya..
”koq baru,pulang om!” atau
“lembur terus ya om!”
kujawab aja singkat
“iya han…capek
banget nih! mana ibu?
belum pulang ya?.
“sebentar lgi kali om”
jawab hani polos.

Yang gw perhatiin si hani selalu pake rok mini sudah gitu duduknya selenge’an lagi…paha mulusnya keliahatan ke-mana2 cuma dia cuek banget, bikin gw tambah gemes…kalo lg iseng dia suka nyamperin gw dikamar, suka tanya2 kerjaan gw atau pr sekolahnya dia.kadang gw ngerasa risih tp mbak naniek n suaminya jg tau kalo si hani suka main2 dikamar gw…tp so far no problem at all! malahan mbak naniek suka nyuruh si hani buat nemenin gw ngobrol atau ngebantuin kerjaannya dia.suatu hari gw ijin pulang dari kantor jam 12.00 siang karena semalam gw lembur sm pagi… jelas msh ngantuk coy..sampe rumah kos, koq sepi banget ya..pada kmana niy..si dimas gak kelihatan. pas gw buka pintu…eh ada si hani lg nonton tv sambil tiduran disofa…pae rok mini & tank top…glek!
montok banget…!

“koq dah pulang om!”
tanya si hani..”iya
nih..kecape’an
kemarin” jawabku

singkat. langsung aja gw ke kamar ganti baju. 
“mo makan sakarang gak om?”tanya si hani di depanpintu kamar gw.
“nanti aja deh…
bikin es teh manis buat om aja deh..
eh si dimas mana?” tanyaku “ikut
sama ibu ke toko…nih
om es tehnya! mo dipijitin gak sama
hani?” jawabnya polos
yg bikin gw kaget…
“boleh jg nih…”pikirku
sambil mijit2 si hani nanya “om dah punya pacar belom? koq gak
pernah keliahatan mo ngapel?” “udah tp jauh dijakarta!”
jawabku singkat. “kalo kamu dah pacaran
belom han?” gantian
gw yg nanya. “ya gitu deh…

Ada temen sekolah, tapi ga berani kesini abisnya gak boleh sama ibu klo ketahuan bisa marah-marah lagian pacar hani rese suka minta cium2 terus..!”  jawabnya panjang “oh gitu ya…kan enak klo dicium pacar han”
jawabku usil
“iya sih tp hani ga bisa klo ciuman pake bibir…” jawab hani…
”masa sih gak bisa…mo om ajarin gak?” kataku sambil nyengir
“gimana siy om?” tanya si hani polos banget 
“bener kamu mo om ajarin tp jgn ngomong ke ibu ya! terus jgn marah klo om keterusan..”
“iya deh..tenang aja om” sambung si hani.
wew…ini dia pucuk dicinta hornipun tiba….biasanya gw cuma bisa ngebayangin bodi si hani tp sekarang gw dah siap nomplok…. kebeneran rumah lg sepi ga ada siapa2 lg selain hani & gw. langsung gw mulai ngajarin dia cara cipok2 ala kadarnya gw pegang pipinya yang halus terus gw langsung samber bibirnya yang mungil, gw kulum bibirnya terus gw olah persis seperti adonan kue…gw lihat mata si hani merem tadinya bibirnya tertutup tapi kelamaan ngebua dikit…gw mainin lidah gw terus gw kulum lg lidahnya…persis kayak french kiss getu deh…
“kaya gitu aja han klu ciuman bibir” kataku
sambil mengharap
lebih. “udah kaya gitu aja om!” tanya si hani heran. 
“ada lg sih klo cara om biasanya
seperti ini…kamu tiduran aja sini” jawabku langsung aja gw sosor lg bibir sihani kali ini tangan gw gak mau tinggal diam, dada si hani yg montok langsung gw grepe2 ma tangan kiri dan tangan kanan gw mulai ngejelajah pahanya yg montok. dari bibir gw langsung sosor lehernya dan gak lupa kuping si hani…gw kulum abis.
‘geli om…..hhmmhhh!”kata si hani pende
campur melenguh. dada si hani gw remes abis sampe ga ada sisa. tangan gw mulai masuk ke bajunya dia…
aje gile!!! pentil mungil nan lucunya dah bangun tanda horni, langsung aja gw pelintir kanan kiri….
”mmhhhh…
sshhhhh….ahhhh om!”


Yang keluar dari mulut hani cuma itu. spontan gw isep2 pentilnya si hani, tangan dia meganging kepala gw
sesekali ngejambak rambut gw tanda kegelian…tangan gw mulai turun ke selangkangannya dia wew ternyata masih belom ada jeminya  vegi-nya dah mulai agak becek dikit. gw mainin kacangya wah si hani masih orisinil rupanya.. :nyam: gw pelorotin celana dalam warna putihnya…
”jangan om,
hani malu tau…!”pintanya “gak apa2
han, biar kamu nanti
tau” jawabku bokis…
sengaja gw ga buka roknya sm bajunya…ga pake tedeng aling2 lg gw langsung jilat vegi- nya si hani yg dah
becek banget…wuih… wangi-nya khas banget.
“sshhhhhh…
ahhhhhhh…geli om!
sssshhhhhh…
ooohhhhhh!
” rintih si hani yg adang agak keras tapi bodo amat gak ada orang ini pikirku.
warna vegi-nya yng msh merah main nambah horni gw..jilat terus sampe kedalem2…tiba2 kaki si hani2 ngejepit kepala…
”hmhhhhhhh…
sssshhhhhhh…
ohhhhhh…!” 
cuma itu yg keluar darimulut si hani sambil ngangkat pantat sedikit tanda klimaks …gak pake nunggu langsung gw jilat habis cairan putih khas martabak vegi si hani…..gurih jg !!
“knp han? gmn
rasanya? mo lg gak?”
tanyaku “td pengen
kencing om! habis gak
kuat nahannya! udah ah om geli bangetvsih…” jawab hani
“sekali lg deh ya….yg ini lain lg han!” kataku sambil tiduran disampinya 
“lain gimana om? tanya hani penasaran
 “kamu tiduran aja ya!”jawabku si hani nurut aja tiduran…
terus gw renggangin kakinya..waduh..vegi- nya si hani imut banget, itu yg bikin gw gak tahan..gw gak mau kelewatan nyodok vegi orisinil kayak gini nih….buka celana pendek gw…si hani melongo ihat gw gak pake celana…tapi dia gak bisa ngomong apa-apa lagi, kepalang tanggung kali… 
kaki kiri si hani gw angkat n gw taruh di pundak…trus gw tuntun mr.p gw ke vegi-nya si hani…busyet…rapetbanget….
”ah sakitom….pelan2 aja ya..
ssshhhhhh!? 
rintih si hani. keringet gw dah ngucur saing semangatnya….gw sodok lg, masih belum bisa si hani melenguh lg….
”mmmmhhhh…
sssshhhhhh…
aaahhhhh!” 
gw tarik lg trus gw sodok lg sampe bener masuk e vegi-nya si hani….
”bleeeeessssss….
” sampe kerasa
banget ngedobrak pintu vegi si hani.
“aaaahhhhh….
aaahhhhh….
sssshhhhhhh….
oooohhhh” si hani
ngejerit sedikit langsung aja gw tutup mulutnya pake tangan sambil tidak lupa genjoooootttttt
teruussssss….!!!
gile bener….lobang si hani bener2 sempit kaya gang senggol! disodok sm mr.p gw kayaknya gak muat  kali….terus gw lihat ada bercak warna merah agak pink yg nempel di mr.p gw….sorry hani, you have lost your virginity!!!

otomatis ml amatiran begini gw yang repot…setelah gw genjot diberbagai posisi si hani cuma bisa melenguh sambil meganging tangan gw atau seprai kasur… bibirnya selalu digigit matanya merem melek…tapi gw dah
gak peduli….lalu si hani ngangkat,pantatnya lagi pahanya coba ngejepit badan gw
“ssshhhhhh…
oooohhhhh…om
hhaannnni gaaaak
taaaahhhann laaaggi..
hhhmmhhhhhh.
aaahhhhh!” 
Lagi-lagi si hani muncrat mr.p gw yg belepotan ma oli si hani gw cabut dulu…sedot lagi boleh…..waduh…skrg gw lihat vegi-nya si hani ada lobangnya… nganga lagi…setelah itu gw sodok lg, kali ini gak susah banget kayak yg pertama. tapi skrg gw pake gaya doggie style tp gak lama si hani dah gaktahan lg…..muncrat, terus gw suruh dia telentang lg..kali ini misionaris style, yg pasti deep penetration gw gak  mau lama-lama lg kasihan juga si hani…sambil gw genjot tangan gw ngeremes nenen & pentilnya si hani, terus gw isep. si hani dah
gak bisa ngapa2in lg selain ,
“aahhhhh…..
ooohhhhhh…
sssssshhhhhhh…
mmmmhhhhhhh” :im
_not_worthy:

gak lama setelah itu mr.p terasa mau klimaks….genjotan gw cepetin dikit…tapi tiba2 si hani ngejepit
badan gw lg waduh…”bisa2 klimaks banreng nih..tp kalo muncrat didalem bisa berabe…ah bodo amat gmana nanti aja!paling gw beliin obat anti hamil aja di apotik
” pikirku gampang.
“aahhh…..om..hhanni
gakk kuat naahhaan
laaggi nnihh..!” rintih
si hani yang kali ini
hampir gakkedengaran. “iya
han..om jg dah gak
tahan nih…” terus gw genjot…gak lama kemudian….
”ooohhhh
…” gw mau tarik mr.p
gw tp kaki si hani
malah ngejepitpinggul gw, rupanya dia jg klimaks…
”oohhhhh…
ssshhh…!” kontan aja
gw gak bisa ngapa2in…
crrrroooottttt…
cccrrrooootttt…
ccrrrroooootttt….
oli gw dah keluar dulu, ya udah tanggung gw jeblosin lagi ke vegi- nya si hani….
ccroooootttt…
crroottt crooott…


busyet kayaknya vegi-nya si hani banjir sm cairan gw. napas gw ngos2an banget sambil tidurandisamping si hani, gwbelai rambutnya sesekali gw raba lagi nenennya…”han,
kamu gak pa2 kan?”
tanyaku “gak pa2 om!
enak jg sih tp ininya
hani agak perih nih…
ntar jgn bilang sam
ibu ya om!” jawab
hani
“kalo km mo kayak gini lg tinggal bilang  sm om ya!” kataku
“iya om…kalo besok
bisa gak om?”
jawabnyapolos….

busyet nih anak, ke’enakan rupanya… setelah pake baju lagi si hani ketiduran di kamar gw…
”waduh gimana nih klo ibunya datang?” 
setelah gw beresin kamar gw langsung aja gw ke ruang tamu nonton tv sambil tiduran…badan gw cape banget tapi gak bisa tidur jg… Dah agak sorean, mba naniek datang…dia heran gw tiduran disofa…
”tumben dah pulang de? koq tiduran disofa?” tanya mbak niniek. “iya mbak, 
td saya ijin pulang kantor, pas sampai rumah si hani lg tiduran tuh dikamar sambil denger tape” jawabku datar. “
biar aja deh mbak biar saya tiduran disofa dulu” tambahku sama mbak naniek. lancar……gak ada masalah…. sejak itu selama gw disurabaya kebutuhan buat mr.p gw jd mudah dan murah. malahan si hani 
suka diem2 tidur dikamar gw smp pagi  yang pasti gw sikat dulu…
Tante Yuli Yang Sexy Dan Bahenol

Tante Yuli Yang Sexy Dan Bahenol

Tante Yuli Yang Sexy Dan Bahenol..Ini cerita merupakan pengalamn pribadi saya. Namaku Ruli mahasiswa asal medan. Lahir dan menuntut ilmu dimedan hehehe. Singkat cerita 3 bulan lalu akupergi ke plza mileni** untuk membeli hp, mklum lah awal bulan uang lagi on fire pgen gantii Hp baru hehe.. Aku pergi kesana waktu sore hari menjelangmalam diperjalanan aku melihat lihat wanita”kampus yg pulang kampus, ada yg berpakaiandengan rok mini yang sexy membuat hasrat akunaik. Singkat cerita sampai aku di plaza tersebut
aku melihat toko-toko yang menjual Hp yang inginaku beli.sampai laa aku ke satu toko, aku meawarkan hargahp tersebut dan melihat” kondisi hp tersebut sambilduduk di kursi toko itu,disamping aku ada sosok
wanita yang cantiikk dan sexyy tpi tidak gadismelainkan sosok tante yang bahenol. Dari ujung rambut ke ujung kaki aku m’prhatikan tubuh tante itu.

 
Rambut tante itu lurus terurai dengan rambutberwarna cocacola.. kulit putihh pantat montokk. Dan yang menbuat aku kagett.. ukurann Tetek nyasangat besar sekitar 38, pakain tante tersebut cukup mebuat adek kecil aku ON, tyerlihat benjolan tetek tante itu yang sangat waaah. tante trsebut hendak membeli Hp BB dan membeliSim Card baru.Aku berani kan diri untuk mengobrol dengan tante tersebut.
“Suka pakai BB ya tan.?”
‘ia ni, .’
“looh, hp tante kan lebih bagus di BB tan. (Hp
tante itu sblum nya ditaruh diatas kaca)”
‘karena kawan² tante pada pakai BB semua, jadi tante
pingin cobainn’
“oogh.. (aku menjawab dengan singkat karena fokus
melihat tetek tante tersebut yg sexy)”
tak lama kemudian tante tersebut bertanya dengan
aku.
‘anak kulihan ya.??’
“ ya tan “
‘kamu cakep jugaa. Hehehe (sambil tertawa genit
tante trsebut)’
“ahkk, tante bisa aja. “

Setelah aku memeriksa Hp yg aku mau beli, diam diam aku mencatat No baru tante trsebut untukmenghubungi nya (cpa tau beruntung hehehe).aku membayar kan Hp aku dan hendak pulang kerumah, aku pun berpamitan dengan tante tersebut. Tante itu pun berkata ‘hati-hati dijalan ya’ (sambil tersenyum genit dengan aku).malam nya tepat jam 9 malam aku mencoba menghubungi nomor tante tersebut.beruntung Nomor tersebut aktif dan yg mengangkat suara tante tersebut.

“halooo ini tante yg diplaza milen*** tadi ya.??”
‘iaa, ni siapa yaa ?’
“ini aku yg tadi ngbrol dengan tante di toko Hp
tadii”
‘oogh, knpa bisa tau No hp tante.?’
“iaa tan, sebelum pulang tadi aku mencatat Nomor
Hp tante yang baru tadi, hehehhe’ maaf ya tant klo
aku tidak permisi”
‘ia tak apa kog, tante malah seneng bisa mengobrol
dengan kamu lagi, oya,nama kamu siapa.?’
“aku Ruli tan , nama tante siapa? tante tinggal
dmna.?? Uda b’kelurga ya tan.? Maaf banyak tanya
ya tan, habis nya gerogi ngomong dengan tante yg
cantik dan sexy. hehehe”
ahk, ruli bisa aja mengoda tante, panggil aja Tante
yuli, tante uda b’kluarga kog Cuma suami tante
tinggal diluar kota. Tante tinggal di Perumahan
Taman Setia Bu** “

Panjang lebar kami mengbrol dengan tante itu, diakhir telepon aku berani kan diri bertanya dengan
tante itu.

“tan, kapan² aku boleh main kerumah gk tan.??”
‘hmmm, boleh datang aja kapan kamu mau, tpi
kalo mau datang hub tante aja dulu ya, biar tante
bersiap-siap pakai pakaian yang sexy , hehehe’

jatung ku berdetak kencang saat tante itu menjawab seperti itu serasa dapat Harta karun
“ahkk, tante bisa aja bercanda yaa, ya da selamat
malam ya tan.”

Lusa nya tepat nya jam 6 sore,aku menelepon tante tersebut dan hendak mau kerumah nya. tante itu pun meng ia kan , dan aku segera   meluncur kerumah nya.Sesampai di rumah tante itu, bah, rumah nyamewah banget, tamannya cukup asri. Aku memencet tombol rumah nya, dan langsung disuruh masuk oleh pembantu nya.Aku duduk di ruang tamu dan datang la sesosok wanita yg berdadan cantik banget, ternyata itu Tante Yuli, aku diam menatap tante itu.

‘Looh, kok melamun, ayo kita makan dulu
diluar ,kamu bisa bawa mobil kan.?’
“iiiaaa iaaa tan, dengan grogi bercampur gugup aku
menjawab nya”
“tapi kereta aku tan (kereta sebutan Untuk Motor
maklum la orang Medan ).?”
‘udah taruh aja digarasi tante’

Kemudian kami makan malam diluar disana aku bukan hanya makan tapi melamunin tubuh tante tersebut, gak kebayang kalo aku bisa ngentot dengan tante ini. Setelah makan kami selesai kami pulang kerumah tante,

“tan, kenapa baju tante gak diganti dengan baju
rumahan, kan lebih nyaman pakai baju biasa tant,?”
‘biar saja pakai baju ini, biar kamu tertarik dan
terpcaing untuk membuka baju tante dengan
sendirinya. (pancing tante tersebut dengan genitnya).







Kami duduk berhadapan diruang tamunya,dan aku melamun hampir 3menit melihat body tante yg aduhai ini. Saat itu aku kaget pada saat aku melamun terdengar aku suara desahhan perempuan yang membuat aku sadar ternyata itu dari video Hp tante itu, dan tante itu pun mendekati aku, dan memacing aku,

‘Ruli,kamu mau gak puasin tante malam ni,? Malam
ni kamu tidur dirumah tante saja, kita ngentot satu
malam ini, puaasiinn tanteeee.’ (bisik tante ini
dikupung aku)
“akkuu takut tan, ntar pembantu tante tauuu
“ (dengan gugup aku menjawab)
‘tenang aja pembantu tante udah tante suruh
didalam kamar saja dan tidak akan memberitahu
kepada suami tante’aku pun mendapat angin sejuk.

Tante itu pun menjilati kuping aku dan tangannya pun naik turun dari atas kepala ku kebawah pahaku, tante itu terus memancing aku dan menari nari erotis di depan aku, (bayangkan sediri gimana rasa nya didpan kita sosok wanita yg bahenol , sexy, tetek dan bodi montok menari-nari erotis didepan kita) Setelah menari tante itu pun duduk diatas pangkuan aku duduk diatas kedua paha aku, dan kami berciuman memainkan lidah beradu lidah satu sama lain, sambil berdesahh,

aahkkk, hmmmmm ahkkk ahh ahh,

aku pun tak mau kalah , aku remas-remas tetek yg besar itu, aku buka kancing baju nya dan aku buka baju nya, terlihat BH tante yg sexy dengan motif² yang bagus, aku buka BH tante itu danm terlihat tetek yg Indah dan langsung aku emut emutt, aku jilatinn aku mainkan teteknya, sehingga membuat tante tersebut mendesah,

aahk ahhh ahhh , Ruli puasin tante malam ini sampai pagii..
Aahhh ooh yess,,
isap yg kuat , emut pentil tante sayangg ,
ahh ahhh uhhm ..

Sambil aku isap tetek nya sambil aku peluk tante itu dan aku remas remas pantatnya yg montok itu, Tak lama kemudian kami berdiri kami berciuman lagi sambil mengoyangkan badan kami. ‘tante udah gak tahan sayang , ayuk kentotin tante sayang,.
“ia tante sayang aku juga sudah tidak tahan.. “

Aku buka celana tante , telihat G-string tante yg model nya hanya tertutup bagian pepek saja, aku buka, dan langsung aku jilat jilat pepek tante, hmm , harum sekali pepek tante, aku suka tante, ‘ia sayang emut teruss jilat teruss buat tante terbang kelangit ketujuh sayang..

ahhh.. oooh yess baby, emut sayang jilattiin
terusssssss.
Ahhh ahhh ahhh ohh yess uhhm ..
aaaaaaaaaaaaaaahhk,

tante sudah orgasme ni sayang.... desah tante membuat aku semakin bergairah, kemudian tante berdiri dan mebuka celana aku dan sempak aku. tante tersebut kaget melihat ukuran kontol aku yg cukup besar dan gemuk, tag tahan tante melihat langsung diemut nya kontol aku, sluppp sluppp slrupp, bunyi kontol aku yg keluar masuk dari mulut tante,

tan, aku gk tahan, ayuk kita ngentot tan,,
ia sayang , sambil dicium nya aku,
dan aku pun mulai memasukan kontol aku
kepepek tante itu,
‘sayang pelan pelan ya masukin nya, kontol kamu
gemuk bget sayang,, ‘
“ia tante ku sayang, bles akhirnya kontol
aku pun masuk,
‘aahhh yess baby, sayang puasin tantee
sekarang.
“ia tante. Aku mengoyang goyang kan pinggul ku
kami melakukan posisi MON.
ahh yess ahh ahhh ahh yess, hhmm kontol kamu
ena¬k banget sayangg, ahhhh yesss , ooohh ouhhh,
hmmmm.
sayang ganti posisi,,,
sekarang tante yg akan mengoyangkan kamu
sayang, kamu dimaktin aja pepek tante ya
sayang...
Pelan pelan dimasukin , ahhhhh, tan, rasa nya kontol
aku dipijit pijit,
digoyangkan nya pantat tante yg montok, sambil
aku isap isap tetek tante,
‘Sayang isap in tetek tante yaa, emut terus, ia
tan.
ahhhhhh ooohhh yesss, ahhh ahhh ahhk
oooughhhhhhhhhhyess.
tak lama kemudian,
Tann, aku mau keluar ini, ahhh ahhhhhoohhh ,,
ia sayang tante juga, kamu keluari didalam aja yaa,
tante pengen rasain manik kamu didalam sayang.
ia tan,
Tante pun mulia mengoyang-goyangkan dengan
nikmatnyaa.
aaaaahh ahhh ahhhkkk yesss yesssssss, aaahh
ahhh tannnn , akkkuu keluaaaarrrrr ni,, aahhhh ahh
oughhhhhhhhhhh.
kami pun berpelukan posisi tante di atas tubuh ku,
‘Ruli sayang, biarin dulu yaa kontol kamu nancep
dipepek tantee,, pepek tante masih mau di entot
lagi.
kami pun istirahat sejenak dan posisi tidak berubah,,nikmat banget pepek tante, aku berbisik
ditelinga tante, dan aku cium kening nya.
ibu tiri yang pengertian

ibu tiri yang pengertian

Ibu Tiri Pengertian - Namaku Kemal, lahir di kota Tegal 25 tahun yang lalu. Aku menyelesiakan kuliah di fakultras kedokteran 3,5 tahun yang lalu, dilanjutkan dengan praktek asisten dokter (koas) selama setahun dan kemudian mengikuti ujian profesi dokter. Kini aku sudah resmi menyandang gelar dokter di depan namaku dan sebagai tahap terakhir, aku kini sedang mengikuti praktek di puskemas di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian sebelum mendapatkan izin praktek umum.


Aku dibesarkan di kota kelahiranku sampai SMU dan kemudian menjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebenarnya bukan keluarga broken home, namun karena ayahku yang berpoligami jadi aku agak jarang berinteraksi dengan ayahku, lebih banyak dengan ibuku dan 2 orang adikku.


Seperti kebanyakan orang sukses di kotaku, Ayah adalah seorang pengusaha warung makan yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg. Sejak aku SMP, ayahku sudah punya 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta dan 2 gerai di Jogja. Berbekal kesuksesan itulah Ayah yang dulu hanya beristrikan ibuku, mulai buka cabang di Jakarta dan Jogja. Alasannya sederhana: butuh tempat singgah waktu memantau jalannya usaha. Pada awalnya, aku sebagai anak sulung, menjadi anaknya yang menentang poligami Ayah. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMU dan Ayah pertama kalinya berpoligami dengan menikahi seorang gadis yang usianya hanya terpaut 10 tahun dariku. Namun justru ibuku yang mendamaikan perselisihanku dengan Ayah dengan alasan klasik yaitu Ayah sudah berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu.

Berbekal pendapatan dari usaha warteg itulah, aku bisa kuliah sampai menjadi dokter saat ini, dan tentu saja ibuku sangat bangga karena aku sebagai putra sulungnya berhasil mandiri dan menjadi contoh buat adik-adikku.
Lalu bagaimana dengan perselisihanku dengan Ayah? Wah, sejak Ibu sudah memaklumi Ayah, aku pun sudah tidak pernah mengungkitnya lagi. Hubunganku dengan Ayah, bahkan dengan dua isteri muda Ayah baik-baik saja. Bahkan Ayah menyempatkan diri hadir dalam wisudaku dulu.
Isteri kedua ayah, yang berarti ibu tiriku, bernama Nurlela, tinggal di sebuah perumahan di daerah Bintaro. Dari hasil pernikahan dengan Mama Lela (begitu Ayah menyuruhku memanggilnya), Ayah dikaruniai 2 orang anak. Setelah 5 tahun menikah dengan Nurlela, Ayah kemudian “buka cabang” lagi di Jogja, kali ini dengan seorang janda beranak satu, bernama Windarti, yang kupanggil dengan Mama Winda, usianya bahkan hanya terpaut 6 tahun denganku.

Sebagai seorang lelaki, aku harus jujur untuk mengacungkan jempol buat Ayah dalam memilih isteri muda. Kedua “gendukan”-nya, meskipun tidak terlalu cantik, namun punya kemiripan dalam hal body, yaitu “toge pasar”. Rupanya selera ayah mengikuti tren selera pria masa kini yang cenderung mencari “susu” yang montok dan goyangan pantat yang bahenol.

Dari dua ibu tiriku itu, tentu saja aku lebih akrab dengan Mama Winda, karena selama aku kuliah di Jogja, setiap akhir bulan aku menyempatkan bermalam di rumahnya yang juga lebih sering ditinggali Ayah. Maklum Mama Winda adalah isteri termuda, meskipun berstatus janda.
Bagiku sebenarnya sangat canggung memanggil Winda dengan sebutan Mama, jauh lebih cocok kalau aku memanggilnya Mbak Winda, karena usianya memang hanya lebih tua 6 tahun dariku. Wajahnya manis selayaknya orang Jogja, dan yang membuatku betah bermalam di rumahnya adalah “toge pasar” yang menjadi keunggulannya.

Suatu saat, ketika aku masih kuliah. Seperti biasa, pada akhir pekan di minggu terakhir, aku membawa sepeda motorku dari kost menuju rumah Ayah dan Mama Winda. Rupanya saat itu Ayah sedang “dinas” ke Jakarta, mengunjungi Mama Nurlela, sehingga hanya ada Mama Winda dan anaknya dari suami pertamanya yang berusia 5 tahun bernama Yoga. Seperti biasa pula, aku membawakan cokelat buat adik tiriku itu.
Saat datang, aku disambut oleh Yoga, sementara ibunya ternyata sedang mandi. Karena belum tahu kalau aku datang, Mama Winda keluar kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel. Melihat kehadiranku di ruang tengah, sontak Mama Winda kaget dan salah tingkah.

“Eh... ada Mas Kemal..”, serunya sedikit menjerit dan melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar.
“Glek..”, aku menelan ludah dan menatap nanar pada ibu tiriku yang bertoket brutal itu. Sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sebentar karena Mama Winda segera berlari ke kamar.
Dadaku berdegup kencang, birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku ikut berlari mengejar Mama Winda ke kamarnya, menubruknya dan meremas buah dada pepayanya. Sayang aku belum berani melakukannya.

Aku hanya bisa “manyun” sambil bermain dengan adik tiriku sampai akhirnya sang ibu tiri keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, dia membungkus tubuh montoknya yang baru saja kulihat toket brutalnya dengan pakaian muslim, lengkap dengan jilbabnya. Mama Winda sehari-harinya memang mengenakan jilbab. Birahiku langsung “watering down”... layu sebelum berkembang.

Sebagai pelampiasan, pada saat mandi aku menyempatkan diri untuk masturbasi, kebetulan ada tumpukan pakaian dalam kotor milik Mama Winda di dalam ember. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai memudar. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku membayangkan dua buah dada besar milik Mama Winda yang sempat kulihat beberapa waktu lalu.
Sambil membayangkan buah dada Mama Winda, aku mengambil celana dalam hitam Mama Winda dan menciuminya. Aroma khas vagina masih tertinggal di sana, mengantarkan masturbasiku dengan sabun mandi sampai akhirnya menyemprotkan sperma di dinding kamar mandi.

Sesudah mandi aku menonton TV bersama Mama Winda dan adik tiriku. Kami mengobrol akrab sampai sekitar jam 8 adik tiriku minta ditemani mamanya untuk tidur. Sebelum menemani anaknya tidur, Mama Winda masuk kamarnya untuk bertukar pakaian tidur baru kemudian masuk kamar anaknya.
Setelah anaknya tidur, Mama Winda keluar kamar dengan kostum tidurnya yang sama sekali berbeda dengan kostumnya tadi sore. Pakaian muslimnya yang tertutup berganti dengan gaun tidur warna putih yang meskipun tidak tipis tapi memperlihatkan bayangan lekuk tubuh montoknya, termasuk warna bra dan celana dalamnya yang berwarna ungu. Kontan birahiku langsung naik kembali.

“Wow... Mbak Winda cantik sekali”, pujiku tulus terhadap ibu tiriku yang memang tampak cantik dengan gaun tidur putih itu. Rambut panjangnya tergerai indah menghiasi wajah manisnya.
“Huss... kalau Bapakmu tahu, bisa dimarahin kamu, panggil Mbak segala”, serunya agak ketus namun tetap ramah.
“Bapak lagi ngelonin Mama Lela, mana mungkin dia marah”, pancingku.
“Ih, apa sih hebatnya si Lela itu? Aku belum pernah ketemu”, sergah Mama Winda. Nadanya mulai agak tinggi.
“Hmm... menurut saya sih... dan Bapak pernah cerita bahwa dia suka buah dada Mama Lela yang besar”, sadar pancinganku mengena, aku segera melanjutkannya. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Yang kutahu buah dada Mama Lela memang besar.
“Oh ya?... “, benar saja, emosi Mama Winda semakin meninggi. Dadanya ditarik seakan ingin menunjukkan padaku bahwa buah dadanya juga besar.
“Bapak kalau di rumah Mama Lela suka lupa diri, pernah mereka ML di dapur, padahal waktu itu ada saya”, cerita bohongku berlanjut,”mereka asyik doggy style dan tidak sadar kalau saya melihat mereka”.
“Gila bener... pasti si Lela itu gatelan dan tidak tahu malu ya?”, sergah Mama Winda dengan emosi.
“Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku.
“Ya memeknya.... “, karena emosi, Mama Winda sudah tidak peduli omongan jorok yang keluar dari mulutnya,”pasti sudah kendor tuh memeknya si Lela!”
“Kalau punya Mbak pasti masih rapet ya?”, tantangku.
“Pasti dong... saya kan baru punya anak satu”, kilahnya,”...dan saya kan sering senam kegel, Bapakmu gak akan kuat nahan sampai 5 menit, pasti KO”.
“Ya lawannya udah tua..., pasti Mbak menang KO terus”, aku terus menyerang sambil menghampiri Mama Winda sehingga kami duduk berdekatan.
“Maksudmu apa Kemal?”, Mama Winda mulai mengendus hasratku. Matanya membalas tatapan birahiku pada dirinya.
“Sekali-kali Mbak harus uji coba dengan anak muda doong”, jawabku enteng sambil tersenyum.
“Welehh... makin berani kamu ya?...”, tangannya menepis tanganku yang mulai mencoba menjamah lengannya.
“Enggak berani ya Mbak?”, tantangku semakin berani,”melawan anak muda?”.
“Gendeng kamu... aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih.
“Ibu tiri yang cantik dan seksi”, puji dan rayuku.
“Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena.
“Mbak Winda...”, aku terus berusaha,”coba bayangkan Bapak sedang ML sama Mama Lela sekarang dan sementara Mbak Winda ‘nganggur’ di sini”.
“Terus?...”, pancingnya.
“Ya... saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak...”, kataku persuatif.
“Kamu sudah gila Kemal”, ibu tiriku masih nyerocos, namun tangannya kini tidak menolak ketika kupegang dan kuarahkan ke penisku yang sudah mengeras.
“Mungkin saya memang gila Mbak, tapi Bapak lebih gila, mungkin dia sekarang sedang nyedot susunya Mama Lela yang besar... atau mungkin sedang jilat-jilat memeknya”, aku terus membakar Mama Winda.
“Huh... Bapakmu enggak pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya.
“Oh ya?... tapi dia pernah cerita kalau di hobby sekali menjilat memek Mama Lela..”, aku terus berbohong sementara tanganku sudah aktif menarik rok Mama Winda ke atas sehingga kini pahanya yang montok dan putih sudah terlihat dan kubelai-belai.

“Kamu bohong...”, katanya pelan, suaranya sudah bercampur birahi.
“Ih... bener Mbak, Bapak suka cerita yang begitu pada saya sejak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku.
“Awalnya Bapak ingin tahu apakah klitoris Mama Lela itu normal atau tidak, karena menurut Bapak, klitoris Mama Lela sebesar jari telunjuk”. Tanganku semakin jauh menjamah, sampai di selangkangannya yang ditutup celana dalam ungu. Mama Winda sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan matanya semakin sayu.
“Stop Kemal, jangan ceritakan lagi si Lela sialan itu...,” pintanya,”Kalau tentang aku, Bapakmu cerita apa?”
“Eh... maaf ya Mbak... kata Bapak, memek Mbak agak becek...”, kataku bohong,”Pernah Bapak bertanya pada saya apakah perlu dibawa ke dokter”.
“Sialan Bapakmu itu... waktu itu kan cuma keputihan biasa”, sergah Mama Winda. Bagian bahwa gaun tidur putihnya sudah tersingkap semua, memperlihatkan pahanya yang montok dan putih serta gundukan selangkangannya yang tertutup kain segitiga ungu. Sungguh pemandangan indah, terlebih beberapa helai pubis (jembut) yang menyeruak di pinggiran celana dalamnya.

“Hmm... coba saya cek ya Mbak...”, kataku sembari menurunkan wajah ke selangkangannya.
“Crup...”, kukecup mesra celana dalam ungu tepat di tengah gundukannya yang sudah tampak sedikit basah. Tersibak aroma khas vagina Mama Winda yang semakin membakar birahiku.
Dengan sedikit tergesa aku menyibak pinggiran celana dalam ungu itu sehingga terlihatlah bibir surgawi Mama Winda yang sudah basah... dikelilingi oleh pubis yang tumbuh agak liar.
“slrupp.... slrupp..”, tanpa menunggu lama aku sudah menjulurkan lidahku pada klitoris Mama Winda dan menjilatnya penuh nafsu.

Mama Winda menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu...kamu bandel banget Kemal....okh... okh...”.
“Kenapa saya bandel Mbak... slruppp...”, tanyaku disela serangan oralku pada vagina Mama Winda.
“Okh...kamu... kamu menjilat memek ibu tirimu...Okhhh....edannn... kamu apakan itilku Kemal...??”, teriaknya ketika aku mengulum dan menyedot klitorisnya.
Kini 100% aku sudah menguasai Mama Winda. Wanita itu sudah pasrah padaku, bahkan dia membantuku melucuti celana dalamnya sehingga aku semakin mudah melakukan oral seks.
Sambil terus menjilat, aku memasukkan jari telunjukku ke liang vaginanya yang sudah terbuka dan basah.
“Oooohh.... edannn.... enak Kemal...”, jeritnya sambil menggelinjang, menikmati jariku yang mulai keluar masuk liang vaginanya.
Bahasa tubuh Mama Winda semakin menggila tatkala jari tengahku ikut ‘nimbrung’ masuk liang kenikmatannya bersama jari telunjuk. Maka tak sampai 5 menit, aku berhasil membuat ibu tiriku berteriak melepas orgasmenya.
“Okh..... edannn....aku puassss....okh.....”, tubuh Mama Winda melejat-lejat seirama pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang berada di dalamnya.
Setelah selesai menggapai orgasmenya, bahasa tubuh Mama Winda memberi sinyal padaku untuk dipeluk. Akupun memeluk dan mencium bibirnya dengan mesra. Dia membalas ciumanku dengan penuh semangat.
“Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“He’eh...”, dia mengangguk dan terus menciumiku.
“Tapi saya belum selesai periksanya lho Mbak...,” kataku manja.
“He3x... kamu benar-benar calon dokter yang bandel Kemal...,” dia terkekeh senang,”Kamu mau periksa apa lagi heh?”
“Periksa yang ini Mbak...”, kataku seraya meremas buah pepaya yang masih terbungkus gaun tidur dan bra.
“Ohh... iya tuh... sering nyeri Dok...”, candanya,”minta diremas-remas... he3x...”.
Sejenak kemudian Mama Winda sudah melucuti gaun tidurnya dan mempersilahkanku untuk membuka bra ungunya yang tampak tak sanggup menahan besar buah dadanya.

“Hmmm... slrupp... “, dengan penuh nafsu aku segera menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang juga besar. Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan kencang. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah dada impianku itu.
“Kemal....”, panggil Mama Winda mesra,”Mana kontolmu?... ayo kasih lihat ibu tirimu ini, hi3x...”.
Aku segera menurut dan menanggalkan celana panjang dan sekaligus celana dalamku, memperlihatkan batang penisku yang dari tadi sudah mengeras dan mengacung ke atas.

“woww... lebih besar punya kamu Mal... daripada punya Bapakmu”, puji Mama Winda seraya menggenggam penisku. Sejenak kemudian ibu tiriku sudah mengemut penisku penuh nafsu.
“Weleh.... udah kedut-kedut kontolnya... minta memek ya?”candanya,” Sini... masuk memek Mama...”
Mama Winda mengangkang, membuka pahanya lebar-lebar di sofa tengah, membuka jalan penisku memasuki liang surgawinya yang sudah becek. Setelah penisku melakukan penetrasi, kedua kakinya dirapatkan dan diangkat sehingga liang vaginanya terasa sempit, membuat penisku semakin ‘betah’ keluar masuk.
Seperti promosinya di awal, Mama Winda mengerahkan kemampuannya melakukan kontraksi dinding vagina (kegel) sehingga penisku terasa terjepit dan terhisap, namun seperti sudah kuduga, aku bukan tipe yang mudah dikalahkan. Aku bahkan balik menyerang dengan mengusap dan memijit klitorisnya sambil terus memompa vaginanya.
“Okh... kamu sudah ahli ya Kemal?.... kamu sering ngentot ya...?”, Mama Winda mulai mengelinjang-gelinjang lagi, menikmati permainan penis dan pijatan pada klitorisnya. Semakin lama aku rasakan dinding-dinding vaginanya semakin mengeras pertanda dia sudah dengan dekat orgasme keduanya. Aku semakin mempercepat kocokan penisku pada vaginanya, berupaya meraih orgasme bersamaan.
“Mbak... saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi.
“Semprot Kemal...okh... semprot aja yang banyak...okh....” Mama Winda terus mendesah-desah, wajahnya semakin mesum. Akhirnya dia kembali berteriak.
“Okhhh..... ayo.... okh.... semprot Kemal... semprot memek Mama....”, jeritan jorok, wajah mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku juga tidak tahan lagi.
“Yesss.....yess....”, akupun menjerit kecil menikmati orgasmeku dengan semprotan mani yang menurutku cukup banyak ke dalam rahim Mama Winda, ibu tiriku.
Orgasme yang spektakuler itu berlangsung hampir menit dan disudahi lagi dengan pelukan dan ciuman mesra.
“Terima kasih Kemal...,” katanya mesra,”Enak banget, hi3x....”
“Sama-sama Mbak, nanti saya kasih obat anti hamil...”, jawabku sambil melihat lelehan maniku di vaginanya.
“Hi3x... enggak apa lagi... tapi peju kami memang banyak banget nihhh...hi3x...” Mama Winda terkekeh girang melihat lelehan mani putihku di vaginanya.
“Kapan-kapan pakai kondom ya.... mahasiswa kedokteran kok enggak siap kondom, hi3x....” candanya.
“Yaa... saya kan alim Mbak... he3x...”
“Ha3x.... bohong banget, kamu jago gitu... pasti udah sering ngentot ya?...”, tanyanya penuh keingintahuan.
“Pernah sih sekali dua kali... waktu main di Jakarta...” kataku jujur sambil mengingat PSK di panti pijat yang pernah kudatangi di Jakarta.
“Jakarta?... heeee.... jangan2x... kamu.... main sama Lela sialan itu, iya???” sorot matanya berubah, agak emosi,”pantes kamu cerita buah dada Lela besar, klitorisnya juga besar... jangan2x kamu sudah main sama Lela juga ya?....”
“Enggak Mbak.... bukan sama Mama Lela... sumpah!” seruku berkilah.
“Awas kamu kalau main sama Lela...” serunya dengan nada cemburu. Wajahnya yang mesum tampak manja.
“Saya janji tidak akan main sama Mama Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya...he3x....”, pintaku manja.
Mama Winda memeluk dan menciumku mesra,”Baik... kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya....”
“Siip... saya bawa kondom deh...he3x....” kataku girang.

Kami bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde pertempuran sebelum pergi tidur. Itu adalah pengalaman pertamaku dengan ibu tiriku, dan tentu saja bukan yang terakhir. Setiap ada waktu, Mama Winda dengan semangat mengirim SMS dan aku segera datang memenuhi hasrat binal ibu tiriku. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah Mama Winda mengajak aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. Bagaimana kisahnya? Nantikan edisi berikutnya. Petualanganku juga tak berhenti pada Mama Winda, karena aku masih punya satu ibu tiri di Jakarta, Mama Lela, yang juga tak kalah montok dengan Mama Winda.
teman kantorku seksi banget

teman kantorku seksi banget

Teman Se-kantorku - Nama panggilanku Sari. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan baik secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan Chinese karena warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku pendek seleher.

Aku tergolong wanita yang kurus dengan tinggi badan 176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk tubuh yang bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun padat dan kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup ‘bebas’ untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan ‘resmi’ hingga sekarang, tapi…who cares? aku toh enjoy aja dengan ini semua.



Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul delapan malam. Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser air minum, aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang pria sedang mengambil air di dispenser itu, nah, aku lega bahwa ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera menghampiri dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air ke gelasku.

Pria yang sedang minum tadi tersenyum menyapaku, aku tersenyum balik, sekedar ramah tamah basa basi. Pria itu berbadan besar, tingginya sekitar 180-an lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia tidak terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan. Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja warna hijau muda dan di lehernya terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. hot kissWajahnya pun biasa saja, tampang orang pengejar karir di usia pertengahan duapuluhan. Saat itu aku ditemani Ditto teman kerjaku, hanya kami beda ruang.

Ada yang aneh di pikiranku. Aku merasakan ada gairah yang mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Ditto. Padahal orangnya biasa saja, kulitnya putih, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar. Nyatanya, ia tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak seperti pria lainnya yang pernah ketemu aku. Hmm…kira-kira apakah dia ada keinginan untuk making love denganku atau tidak yaa?agen poker

Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di pintu. “Masuk!” Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Ditto. Ternyata benar, Ditto berdiri di pintu itu sambil menenteng tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing bajunya terbuka yang di atasnya. “Gimana, udah selesai?” Tanyanya.

“Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh nih, jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!” Aku mencoba mengajak bercanda. “Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?”
“Silakan aja, asalkan kamu ngga keburu pulang.”
“Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat.”
“Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?”
“Paling-paling pergi sama teman2 main badminton atau basket.”
“Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin teman2nya?”
“Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali2 boleh kan ganti suasana?”
Kami kembali tertawa-tawa.




Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku yang tadi.”Wah, panas sekali di sini…AC-nya kurang bagus yah?” Katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan membuka satu lagi kancing baju di dadanya. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut2 di dadanya.

“Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?” Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal. “Well, sebenarnya iya sih…boleh nggak aku copot blazernya?”
“Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku papa mertua kamu?”

Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi, dan melepaskan blazerku dengan gaya yang aku buat2 agar nampak seksi. Aku menunggu apa reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang aku kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan bahuku bebas dilihatnya.

“Wah, ternyata nggak ada lengannya toh? Bisa-bisa nanti orang hanya menempelkan selembar kain saja pada di bawah blazer.” Candanya mengomentari.
“Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!” Jawabku menggoda. “Hah? wah, kalau itu sih…apa kamu masih kurang yakin? sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu lagi?”
“Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!” Kataku sambil mengedipkan mata.

Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas kepandaiannya memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui keindahanku. Tiba-tiba dia berkata lagi:

“Kamu nggak minta dipijitin sekalian, Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut dengan adegan pijit itu trus berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?”

Ya ampun…caranya begitu gentle sekali dan sama sekali nggak kurang ajar… Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela untuk menyerahkan tubuhku padanya…meski sebenarnya akulah yang menginginkannya. Aku segera menjawab:

“Terserah deh, tapi nggak usah disensor juga nggak apa2 kok.” “OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja dilakukan nanti?” Katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit bahuku. Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku. Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit. Dan dia bukannya tak tahu itu, ia menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah, sehingga kini pundakku terpampang di hadapannya.

“Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!” Katanya sambil menyingkirkan tali bra ku ke samping, aku jadi merasa begitu seksi, ditelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi aneh-aneh.
“Mmm…enak sekali Ditt…” Kataku sambil menikmati pijitannya yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit.

Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku, membuatku merasa begitu rileks, dan terus terang saja…terangsang. Tiap kali jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku mengerang keenakan.

“Mmm…mmm…aduuh, enaknyaa…boleh juga tangan kamu, Dit!”
“Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku jadi ingin mijit bagian yang lain!”. Ia membuatku jadi makin terangsang dengan pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku.
“Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu pijit bagian yang lain yah?”

“OK! Setuju!” Candanya dengan nada seperti orang sedang rapat kampung. “Aahhh … Mmmmhhh …. Ohhh Yesss”

Rintihku aku buat-buat sambil bercanda. Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang:

“Tuh kan? apa aku bilang? kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian yang lain!” Katanya sambil bercanda…padahal aku sudah mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua payudaraku. “Udahlah Dit…be serious for now, I want it, please.” Kataku dengan nada serius.

“Well…OK, I wanted to do it too, but now I got your permission!” Katanya.

Ia pun langsung menurunkan bra-ku kebawah, hingga kedua susuku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi. Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku, namun ia menghalanginya.

“Nggak apa-apa, Sar…Aku senang melihat kamu dengan kaca mata itu…seksi sekali!” Katanya sambil mengedipkan mata kiri.

Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan mengulum bibirku, aku terpejam ketika merasakan lidahnya menerobos mulutku. Aku agak terkejut ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat aku membuka mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya membasahi leherku yang jenjang, merambat menyusuri bahuku…hangat sekali rasanya. “Ngggg…..” Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan kepalaku. Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi leherku, turun ke belahan dadaku … menari-nari di situ … uhh … aku semakin tak karuan rasanya.

“Teaser! Please … suck my nipples, bite ’em hard!” Aku meracau tak karuan.
“Wah … ketahuan nih, udah pengen yaaa?” Godanya nakal. Aku sudah kesetanan, segera kudekap kepalanya dan kutarik mendekati dadaku, dan kubusungkan kedua dadaku agar ia segera mengulum puting susuku. Dia malah berkata lagi:
“Iya, iya aku tahu maksudnya kok….sslurp”
“Uhgkk” Mulutnya menangkap pentil susuku yang kanan, lidahnya menjilat-jilat lembut, aduuuh…rasanya geliii dan nikmaaat sekali…aku menggelinjang-gelinjang menahan geli yang luar biasa, lidahnya seperti melingkar-lingkari pentil susuku dengan cepat namun lembut. Begitu gelinya hingga punggungku terlepas dari sandaran kursi dan melengkung seperti busur panah. Ohhh….

Kini lidahnya berpindah ke puting susuku yang kiri, mengait-ngaitnya… misionarisAduuhhhh aku semakin lupa daratan, Aku nggak tahu kenapa, tapi jilatan Ditto rasanya begitu berbeda, benar-benar membuatku seperti melayang-layang kegelian, rasanya seluruh badanku kehilangan energi … lemaas sekali, tapi terasa nikmaaat sekali. Puting susuku yang kanan kini dipilin-pilinnya…

Uhhhfff … Kedua pentil susuku yang sensitif ini menjadi bulan-bulanan mulut rakus Ditto, aku merintih dan mengerang sebisaku, keringatku mulai menetes, rasanya sulit sekali untuk bernafas teratur, tiap kali menarik nafas selalu terhenti oleh rasa geli yang menyengat puting susuku. Tiba-tiba ia berhenti.

“Sar, naik ke meja dong?” Katanya sambil mendirikan tubuhku. Karena sudah terangsang tak karuan, aku menurut saja ketika ia menelentangkan tubuhku di meja kantor, kemejaku telah terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya menyingkirkan ke kiri kanan. Aku sempat tertegun melihat kemeja Ditto masih tampak rapi, hanya celananya saja yang terlihat menonjol karena desakan kejantanannya. Aku tertegun juga ketika melihat kedua pentil susuku terlihat kemerahan, berdenyut denyut dan mencuat tinggi sekali. Aku segera kembali terpejam ketika mulut rakusnya kembali menyerang kedua susuku. Puting-putingku dijilat, dihisap, digigit, dan aku tak tahu diapakan lagi … rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya bisa terlentang di meja itu sambil terengah-engah dan menggelinjang menahan serbuan birahi.

“Ahhhkkkk …. SSsssssshhhhh …. Mmmmmh …” Aku mendesah dan meracau tak karuan. Sementara tangan kananku mulai gatal dan menyusup kebalik rok mini dan celana dalamku, menggosok-gosok bibir kelaminku yang rupanya telah lembab dan basah sekali dari tadi.

Kini Ditto memilin-milin kedua puting susuku dengan jari-jarinya, dan lidahnya menyusuri perutku yang langsing, menjilati pusarku. Lidahnya mendarat di tempat-tempat tak terduga yang memberiku sensasi yang luar biasa selain pilinan jarinya pada puting susuku. Paha bagian dalamku tak luput dari jilatan-jilatannya yang mesra dan buas.

Disingkapkannya rok miniku ke atas, lalu jemarinya kembali ke pentil-pentilku seolah tak membiarkan mereka istirahat. Digigitnya karet celana dalamku, secara refleks aku merapatkan kaki dan mengangkat punggungku agar
ia mudah melepaskannya. Aku tak tahu diapakan, tapi celana dalamku segera lepas. Secara sukarela aku mengangkangkan kedua tungkaiku lebar-lebar agar ia bisa memandangi kewanitaanku yang telah membanjir karena ulahnya.

Ditto melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku keluar, agar ia lebih bebas lagi memandangi kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah memandangi langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya aku mampu menarik nafas panjang, karena kedua putingku tak lagi menerima sengatan birahi darinya. Tapi tiba-tiba kurasakan hawa dingin di kewanitaanku, ia meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang aneh … membuatku semakin tak tahan lagi, ingin ia segera menancapkan kejantanannya ke tubuhku…

“Ohhh …. cepatlahhh Dittooo … please …. you teaserr!””Sar … badan kamu indah sekali … luar biasa … cantik sekali.”
“Do something pleasee….” Aku merintih memintanya segera menyelesaikannya.
“Ahhhgggg….” Aku menjerit dan menggelinjang hebat ketika lidahnya tiba-tiba menyayat klitorisku dengan cepat dan tajam. Lalu kewanitaanku seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah, panas, dan lunak, terhisap-hisap, dan klitorisku tersayat-sayat oleh sesuatu. (Belakangan aku tahu kalau ternyata ia mengisap dan mengulum seluruh permukaan bibir vaginaku).

Karuan saja aku makin tak tahan, menggeliat-geliat tak karuan, punggungku terangkat-angkat dari meja itu, mataku tak mampu kubuka, nafasku kian terasa berat, rasanya gelii sekali … nikmat tak terkira… “Oohhh … Dittoooo … uuuhhhh … enaak sekaliiii … ssshhhhh …. kamu apain akuuuu ….. aduuhhhhh”. Rintihanku kian tak terkendali, aku segera memlintir-mlintir kedua puting susuku untuk menambah kenikmatan, meremas kedua susuku yang kenyal, sementara Ditto tak henti mengirimkan kehangatan birahi lewat bibir kewanitaanku. (Uuuhhhh, rasanya … mengetikkan cerita ini saja membuat kewanitaanku basah lagi membayangkannya.)

Jilatan dan hisapan mulut Ditto kian buas menerpa kewanitaanku. Apalagi ketika jarinya ditusukkannya ke dalam liang kewanitaanku, dan menari-nari di dalamnya … Aduuuh … benar-benar tak terperi nikmatnya. Tusukan jari Ditto menyentuh tempat yang tepat … berkali-kali … Aduhh …. terasa seluruh energiku seperti terhisap ke tempat itu … terkumpul disitu … lalu meledak. “AAHHHGGGGGGgggg Dittoooo …. uhhhhh ……” Aku segera mencapai klimaks.

Orgasme yang luar biasa sekali … merenggut sebagian kesadaranku … hingga kini aku terkulai lemas. Aku mencoba mengatur nafas … tapi sia-sia … kenikmatan ini benar-benar membuatku terbang melayang. Aku terpejam, merasakan nikmatnya diriku terombang-ambing ke alam tak sadar … menggumam

“Mmmmhh …. Ditto …. enak sekali … hhhhh”
“Sari, mau istirahat dulu?”
“nggghhhh … nggak … go on, f**k me now … f**k me hard! NOW!” Aku tak mampu mengontrol pilihan kataku lagi, birahiku telah menguasai diriku. “Well, baik kalau begitu…” Itu kata terakhir yang kudengar dari Ditto, lalu sambil hanya dapat memandangi langit2 aku merasa pahaku dikangkangkan, tiba-tiba … ssssspppp …. Kejantanannya mengisi tiap won on hotrongga di liang kewanitaanku ini.

“Aduuuhhhhh ….. Ohhh … terusin sayangggghhh …. deeper …” Aku merintih tak karuan ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri sementara aku telentang di meja, jelas ia sangat leluasa menggerakkan tubuhnya, kejantanannya terasa menyodok dan menggerus-gerus seluruh bagian dalam kewanitaanku dengan buas dan garangnya.

Aku tak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh orgasme yang pertama tadi … namun persetubuhan ini rasanya lebih hebat lagi … rasa-rasanya seluruh tubuhnya memasuki liang kewanitaanku, aku hanya memejamkan mata, menggeliat, merintih … Uhhhh … Sodokan-sodokan kejantanannya terasa kian dalam menerobos dasar kewanitaanku telapak-telapak tangannya yang kasar tak henti meremas dan memegang kedua susuku. Beberapa menit kemudian, Ditto tiba-tiba menarik kejantanannya dari kewanitaanku, lalu dengan begitu cepat membalikkan tubuhku hingga kini badanku tengkurap di meja, namum kakiku menjuntai ke lantai, pentil-pentil susuku terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu, aku hanya terengah.


Ditto menikamkan kejantanannya lagi ke lubang kewanitaanku dari belakang…

Uffhhh … sensasi yang berbeda lagi … ia mengocok tubuhku keras sekali hingga meja itu bergoyang-goyang, saat itu juga, aku merasakan klimaks menyambar tubuhku … kewanitaanku serasa mengejang, menggigit kejantanan Ditto, kedua tanganku mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku menegang, dan aku merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu jiwaku, merenggut tenagaku … aku menjerit tertahan … Ahkkkk! … Lalu aku merasakan nikmat yang luar biasa dan tubuhku serasa lemas sekali. “Aduuh … Ditt … Enakkk sekali .. hhhh”

“Tahan sebentar, ya Sari … bisa kan?” Jawabnya sambil mempercepat gerakannya
“Ahhkkk … sakit … pelan2 donggg….” Kewanitaanku terasa ngilu. “Sebentar saja yang … sebentaar lagii”
“Ohhh … Uhhhhg … Ngggggg….” Aku mengerang2 menahan ngilu, namun rasa sakit itu tak bertahan lama ketika tiba-tiba kehangatan kembali mengalir lewat kewanitaanku … Aku serasa melambung lagi oleh orgasme yang ketiga, ketika sperma Ditto menyembur menghangatkan sudut-sudut liang kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu mengantarkanku ke alam tak sadar untuk beberapa saat.

Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah, dibanjiri keringat, lemas sekali seperti setengah pingsan. Yang dapat kurasakan hanya rasa nikmat dan kepuasan tiada tara, aku sempat melihat Ditto melemparkan tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan matanya.

Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang telah kusut tak karuan karena habis bersetubuh tanpa melepaskan pakaian. Tak kukenakan kembali celana dalamku karena telah sedikit basah oleh cairan kenikmatanku ketika foreplay tadi.

Kukenakan kembali blazerku, kulihat Ditto sedang berdiri bersandar di pintu tanpa ada kusut sedikitpun di kemejanya, namun wajahnya tampak berseri-seri.

“Sari, udah jam sepuluh seperempat!”
“Iya, sudah waktunya pulang nih.”
“Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?”
“Apanya yang nggak rugi?”
“Kan bayar sewa ruang overtimenya sampai jam sepuluh!?”Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat parkir mobil kami di lantai lima.
tempat kos kosan surga ku

tempat kos kosan surga ku

Cerita ini terjadi ketika aku masih kelas 1 SMA. Pada waktu itu aku kos di daerah tempat aku sekolah. Tempat kosku berada tidak jauh dari sekolahanku. Namaku Dodo, tinggi 167 cm, berat 58 kg, dan aku mempunyai wajah yang boleh dibilang lumayan tampan (menurut temen-temenku).
Cerita ini merupakan pengalaman pertamaku melakukan hubungan seksual. Cewek yang pertama kali merasakan penis ku adalah teman kos ku sendiri. Namanya Nita, tinggi kurang lebih 155 cm, dan mempunyai wajah yang cantik. Dan didukung dengan bodi yang bisa bikin cowok merangsang ketika melihatnya.
Nita adalah cewek yang baik dan ramah pada setiap orang. Aku menganggap Nita sudah kayak saudara sendiri. Karena aku memang anak tunggal, jadi aku ingin mempunyai seorang saudara. Dan menurut ku Nita bisa jadi kakak yang baik buat aku. Usia ku selisih 5 tahun dengan usia Nita, aku kelas 1 SMA dan Nita sudah mahasiswi semester 7.
Pada malam itu aku baru datang dari pulang kampung karena pada saat itu lagi liburan sekolah. Sampai di kos-kosan aku lihat masih sepi karena teman-teman belum pada kembali ke kos-kosan. Aku merasa capek setelah melakukan perjalanan selama 2 jam dari rumah menuju kos-kosan. Aku segera istirahat sambil tiduran dikamar. Tapi aku tidak bisa beristirahat dengan nyaman, karena telah terjadi peperangan adu tembak didalam perut ku. Rasa lapar tidak bisa ditahan lagi sehingga aku keluar dan membeli makanan.
Setelah aku kembali, peperangan didalam perut ku yang tadi begitu heboh, ternyata sudah melakukan perdamaian. Saat aku membuka pintu kamar, aku dikagetkan dengan suara yang datangnya dari arah belakangku.
"Baru datang ya Do...?"
Suara itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Tidak salah lagi itu adalah suara Nita.
"Ehh...mbak Nita. Iya mbak aku baru datang tadi"
aku menjawab pertanyaan Nita sambil melempar senyum kepadanya.
"Kamu bisa nganterin mbak sebentar nggak Do?"
"Nganterin kemana mbak?"
aku bertanya kepada Nita.
"mbak mau ngambil buku dirumah teman"
"aduh...gimana ya?" aku berkata sambil garuk-garuk kepala mengekspresikan kebingungan. Lalu dengan kelihatan sedikit kesal Nita berkata
"ya udah dehh...mbak pergi sendiri saja kalau kama nggak bisa"
"Jangan...!!!! Ini kan sudah malam mbak. Aku bukannya tidak mau, tapi aku capek banget"
Lalu Nita tersenyum dan berkata
"ouw gitu? Tenang saja Do, entar mbak pijatin dehh!!! Lagian rumah teman mbak deket kok dari sini"
"ya udah deh, kalau gitu aku ambil kunci motor sebentar ya!" aku berkata sambil berjalan menuju ke kamar untuk mengambil kunci motor ku.
"Thanks ya Do..." Nita berkata dengan wajah gembiranya.
Setelah aku keluar dari kamar, aku segara menghidupkan motor dan mengantar mbak Nita. Ternyata tidak lama kemudian sudah sampai didepan rumah teman mbak Nita.
"kamu nggak ikut masuk Do?"
"nggak usah deh aku tunggu disini saja"
Tidak lama kemudian Nita keluar dari rumah temannya dan langsung mengajakku balik.
Setelah sampai di kos-kosan, aku langsung masuk ke kamar. Tidak lama kemudian ada yang mengetok pintu kamar ku.
"Do...udah tidur apa belum" suara Nita dibalik pintu.
"masuk saja mbak! Nggak dikunci kok" aku menyuruh Nita masuk dengan masih tiduran. Aku kaget melihat Nita memakai tank top dan rok mini masuk kedalam kamarku.
"ada apa mbak?" aku bertanya kepada Nita.
"kamu kan tadi bilang, kalau kamu lagi capek. Gimana kalau mbak pijatin kamu"
"Boleh..." aku menjawab sambil membalikkan badan ku yang tadi terlentang menjadi tengkurap.
"Lapasin dong baju kamu, kan biar lebih enak mijatnya"aku langsung bangun dan melepas bajuku terus kembali tengkurap. Setelah sekian lama memijat Nita bertanya
"enak nggak pijatan mbak?"
"hemmm...." aku hanya bergumam tanpa menjawab
"ehh...jangan mau enak sendiri dong!! Gantian dong!" Nita berkata sambil menghentikan pijatannya.
"ya dehh..." aku berkata dan langsung bangun.
Tanpa aku suruh, Nita langsung tengkurap disebelah ku. Kemudian aku mengambil baby oil dan menuangkannya sedikit di telapak tanganku. Aku mulai memijat dari kaki Nita. Semakin lama semakin naik hingga ke pahanya. Selama itu pula suasana dikamar ku jadi hening, karena diantara kita nggak ada yang bicara. Setelah lama aku memijat daerah paha Nita. Aku mendengar Nita mendesis pelan. Sangat pelan, tapi masih bisa aku dengar karena pada saat itu sausana begitu hening.
"ehhmmmm....sshhhh...."
Mendengarkan Nita mendesis, tiba-tiba ada perasaan aneh muncul di otak ku dan menjalar keseluruh tubuh ku hingga terkumpul menjadi satu di selangkangan ku. Tiba-tiba penis ku yg tadinya lemas, langsung tegang. Aku semakin semangat memijat Nita. Lama-lama pijatan ku berubah menjadi rabaan lembut pada paha Nita. Nita yang tadi tidak bergerak, sekarang mulai menggeliat kayak cacing kepanasan. Kemudian perlahan Nita membuka pahanya guna memberi ruang untuk kedua tangan ku meraba bagian dalam pahanya.
Posisi ku sekarang sudah berubah. Sekarang aku duduk diantara kedua kaki Nita yang terkekang. Karena Nita pakek rok mini yang begitu pendek, mau tidak mau, suka tidak suka aku dengan jelas bisa melihat celana dalam Nita yang berwarna putih. Tampak jelas disitu ada gundukan yang membuat penis ku semakin ingin melompat dan menusuknya. Semakin aku menaikan kedua tangan ku, Nita semakin menggelinjang kegelian. Entah dia sadar apa tidak dia berkata lirih


"Do...kalau rok ku mengganggu, lepasin aja..."
Tanpa berpikir dua kali aku langsung melepaskan roknya, dia membantu dengan mengangkat tubuhnya. Kemudian aku menarik roknya kebawah sampai terlepas. Aku terdiam sesaat waktu melihat patatnya yang begitu bulat mengembang. Hati semakin dag dig dug tak menentu menyaksikan pemandangan yg begitu indah.
"kok diem sihh Do...?? Terusin dong...!!!" kata Nita mengiba.
Lamunan ku langsung buyar. Tanpa menjawab pertanyaan Nita, aku kemudian meneruskan tugas ku. Semakin lama perasaan ku jadi tambah tak menentu dan penis ku semakin keras. Semakin lama aku memandangi patat bulat milik Nia, aku semakin gemas dibuatnya. Tanpa aku sadari tangan ku meremas dengan keras pantat Nita.
"aawwhhh....pelan-pelan dong! Kan sakit..."
Tanpa menghiraukan kata-kata Nita aku terus menerus meremas patat Nita. Aku melihat celana dalam Nita telah basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya. Yang menandakan kalau Nita sudah terbuai dalam rangsangan. Kemudian tangan kanan ku turun dan meraba vagina Nita yang masih tertutup celana dalam.
"Ohhh....sshttt.....aahhhhhh" Nita mendesah pelan.
Tubuh Nita menggelinjang semakin tidak terkontrol dan semakin banyak cairan yang keluar dari vaginanya. Kemudian Nita membalikan badannya, sekarang dia terlentang kemudian aku melepas celana dalam Nita yang telah basah. Setelah celana dalamnya lepas aku menurunkan kepala ku hingga berada diantara selangkangan Nita. Aku mulai menjilati paha mulus milik Nita dan menyupangi beberapa kali hingga meninggalkan bekas merah pada paha Nita. Semakin lama jilatan ku naik ke pangkal paha dan menjilati daerah pangkal paha Nita. Aroma khas memek tercium begitu menyengat di hidung ku. Aku meneruskan jilatan ku pada memek Nita. Desahan dan erangan Nita samakin tak bisa di tahan. Wajahnya yang cantik telah basah oleh peluh-peluh yang keluar karena sang pemilik lagi menahan siksaan kenikmatan yang luar biasa.
Kedua tanganku mulai mengangkat tank top dan BH Nita. Kemudian meremas-remas payudara dan ibu jari ku menggesek-gesek serta menekan putingnya. Kadang mencubit dan memilinnya, membuat sang pemilik semakin tak kuasa menahan kenikmatan. Mulut Nita semakin meracau-racau tak jelas.
"Ahhh....uuuhhh...ohhh...."
"aduhh....akh...ggeeell....lliii....!!!!"

Nita menggelinjang kayak cacing kepanasan.
Mulut semakin kuat menghisap vagina Nita. Lidahku semakin liar menari-nari dan menyentil-nyentil klitorisnya. Kadang aku menggigit lembut klitoris Nita yang membuat Nita semakin tak kuasa menahan nikmat dan cairan vaginanya semakin banjir. Kemudian aku menjulurkan lidahku semakin panjang dan memasukannya kedalam liang vagina Nita.
"Uhh...achh....amm....puunnn.....Dooo....!!! Hisss....ssaaap terus Do...!!!" Nita tak henti-hentinya mengerang.
Aku memasukan jari tengah ke dalam liang vaginanya hingga aku menemukan g-spotnya. Aku menekan dan menggesek terus daerah tersebut sambil mulut ku menghisap klitorisnya semakin lama semakin keras. Hingga aku dapat membobol pertahanan Nita.
"Ahhh....akkhh...teee....rrruss diisss...tuuu"
Aku semakin keras menghisap klitoris Nita.
"Oohhhh.....sssse....dikkk....kittt lagggii akkkuuu....achhh....ouwhhh......ahhhhhhhhhh........!!!!"
Nita tidak dapat lagi meneruskan kata-katanya serta mengeluarkan erangan panjang yg tertahan karena dilanda orgasme yang begitu hebat. Dan tubuhnya mengejang hebat, pahanya menjepit kepala ku, tangannya menekan kepala ku semakin dalam di selangkangannya. Pinggulnya terangkat dan menyentak-nyentak tanpa bisa dia kendalikan. Ketika itu vaginanya juga mengeluarkan cairan putih lengket.
ccrrrettt....ccrrrettt....ccrrrettt.... Cairan itu meleleh dan langsung aku hisap dan aku jilat sampai habis. Kemudian Nita terkulai lemas bagai tidak punya tulang.
Aku bangun dan melepas semua pakaian hingga aku telanjang bulat. Kemudian aku melepas tank top dan BH Nita yang telah tersingkap ke atas. Kami berdua telah bugil tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami. Aku segera menggagahi tubuh bugil Nita yang begitu menggairahkan untuk disetubuhi. Aku mencium bibir Nita yang merekah indah. Aku lumat bibirnya. Kita saling memainkan lidah, saling membelit dan menghisap. Aku menurunkan ciuman ku ke leher jenjangnya. Menelusuri senti demi senti leher Nita dan turun lagi hingga sampai pada payudara. Aku menciumi dan menjilat payudaranya, hingga lidah ku sampai pada puncaknya yaitu putingnya. Aku mengulum putingnya serta menghisap seperti bayi yang menyusu. Hingga membuat libido Nita memuncak lagi.
"Please.....fuck....me" Nita mengiba karena sudah tak kuasa menahan serangan dariku. Sementara aku masih menyusu pada payudaranya.


"Do....jangan siksa aku seperti ini!!! Masukan aku sudah tidak tahan....!!!"
Aku memegang penis ku yang telah ereksi sempurna dan mengarahkannya ke liang vagina Nita. Aku mulai menggesek-gesekan kepala penis ku ke bibir vagina Nita hingga membuat dia mendesis kayak orang kepedasan. Aku mulai menekan masuk sedikit demi sedikit namun gagal, karen vagina Nita sangat sempit. Aku menekannya lagi lebih keras hingga kepala penis ku sekarang sudah masuk. Nita memejamkan matanya sambil meringis kesakitan karena penis ku yang berukuran diameter 4 cm dan panjang 18 cm memaksa masuk liang vaginanya yang sempit. Aku tekan lagi hingga kepala penis ku merasakan ada sesuatu yang menghalanginya masuk lebih dalam. Akal sehat ku sudah hilang sehingga yang ada di otak ku hanyalah perasaan ingin cepat-cepat menyelesaikan semua ini.
Aku sudah tidak sabar lagi. Kemudian aku menarik penis ku keluar sedikit dan menekannya lagi dengan sekali hentakan yang kuat sekali maka lenyaplah sudah seluruh batang penis ku ditelan oleh vagina Nita.
"Aaaa.....saaaakk....kitttt. Pellann....pellaaann...." Nita menjerit keras karena selaput daranya sobek. Aku melihat Nita meneteskan air matanya. Aku jadi iba melihatnya sehingga aku membiarkan penis ku sebentar agar vagina Nita bisa beradaptasi dengan penis ku. Sambil aku mengulum lagi putingnya biar rasa sakitnya sedikit berkurang. Setelah Nita berhenti meringis kesakitan, aku mulai memompa penis ku meskipun dengan pelan-pelan. Nita mulai mendesah lagi merasakan kenikmatan yang luar biasa. Semakin lama aku semakin menaikan tempo penis ku hingga membuat vagina Nita menjadi gagat dengan sejuta rasa kenikmatan.
"Ohhh....ahh....enak bangettsss" mulut ku mulai mendesah merasakan jepitan vagina Nita yang begitu sempit. Begitu pula Nita juga mulai menggoyangkan pinggulnya mengimbangi penis ku yang semakin cepat menggenjot vaginanya.
"Sayang....lebih keras lagi....!!! Aku...sudah hampir...." Nita tidak dapat meneruskan kata-katanya karena aku menggenjotnya dengan lebih cepat lagi. Nita menggeleng-gelengkan kepalanya tak kuasa menahan nikmat. Tangannya mencengkram lengan ku.

Clekk....clek....clokk....clok.... Suara perpaduan antara kedua alat kelamin kami.
"Ahhhh.....akuu......sammpai.....ahhhhhh.........." Nita mengerang panjang sambil tubuhnya meliuk-liuk menandakan dia orgasme untuk yang kedua kali. Tubuhnya mengejang dan otot-otot vaginanya berkontraksi. Vaginanya menghisap penis ku dengan sangat kuat. Dan penis ku terasa disembur cairan hangat yang keluar dari dalam vagina Nita. Hingga membuat pertahanan ku jebol karena tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat pada penis ku.
"Ahhhhhh...................."
Aku mengerang keras ketika penis ku berkedut terus aku menghentakkan penis ku lebih dalam lagi serta mengeluarkan lahar panas sperma ku. Kemudian aku terjatuh di samping Nita yang telah lemas tak berdaya. Aku melihat cairan sperma ku meleleh keluar dari vagina Nita disertai dengan darah perawan Nita. Sebenarnya aku merasa menyesal telah merenggut keprawanan Nita. Sejuta rasa bersalah membayangi pikiranku. Akhirnya aku dan Nita tertidur sampai pagi.
Setelah peristiwa itu, kami selalu melakukannya kalau ada kesempatan. Atau jika salah satu dari kami ada yang menginginkannya akan kami lakukan, entah itu di kos-kosan atau pun di hotel. Kita selalu berusaha saling memberi dan melayani dengan baik.
 
Support : Baju Lingerie Murah | Zodiakmu Hari Ini Copyright © 2011. kumpulan cerita sexs di kota besar - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger